Sabtu, 29 Desember 2012

pengertian Makki dan Madani


BAB I
PENDAHULUAN





A.LATAR BELAKANG
Ilmu Makki dan Madani adalah ilmu yang membahas ihwal bagian al-Qur’an yang Makki dan bagian yang Madani, baik dari segi arti dan maknanya, cara-cara mengetahuinya, atau tanda masing-masingnya, maupun macam-macamnya. Sedangkan yang di maksud dengan Makki dan Madani ialah bagian-bagian kitab suci al-Qur’an, dimana ada sebagiannya termasuk Makki dan ada yang termasuk Madani.
Para ulama’ sangat memperhatikan al-Qur’an dengan cermat dimana mereka menartilkan surah-surah sesuai dengan tempatnya. Namun suatu surah tidak bisa di tempatkan begitu saja di bagian Makki dan Madani sebelum mengetahui jelas ciri-ciri antara keduanya.
Dari sini pemakalah mencoba untuk mengulas lebih lanjut dalam persoalan menetapkan mengetahui dan memahami, mana surah yang termasuk bagian Makki dan mana surah yang termasuk bagian Madani.
B.RUMUSAN MASALAH
1.      Pengertian Makki dan Madani
2.      Perbedaan Makkiah dan Madaniah beserta cirinya
3.      Faedah Mengetahui Makki dan Madani
C.TUJUAN PENULISAN
1.      Mengetahui Pengertian Ilmu Maki dan Madani.
2.      Mengetahui Perbedaan Mkiah dan Madaniah beserta citinya
3.      Faedah Makki daan Madani.
D. METODE PENULISAN
Metode penulisan yang kami gunakan untuk mencari sumber-sumber dalam pembuatan makalah ini adalah dengan cara mengumpulkan data dari media  internet dan dari sumber- sumber buku ilmu Qur’an.













BAB II
PEMBAHASAN




A. Pengertian Makki dan Madani

            Untuk mendefinisikan atau memberikan ceriteria bagian mana yang Makki dan bagian mana yang Madani para ulama meneliti Qur’an dengan cara melalui ayat demi ayat dan dari surah demi surah untuk di tertibkan sesuai dengan nuzulnya. Dengan memperhatikan waktu, tempat dan pola kalimat bahkan lebih dari itu mereka mengumpulkan antara waktu, tempat dan pola kalimat. Cara demikian merupakan ketentuan cermat yang memberikan kepada peneliti objektif. Gambaran mengenai penyelidikan ilmiah tentang ilmu makki dan madani.
            Para ulama memperhatikan Qur’an dengan cermat mereka menertibkan surah-surah sesuai dengan tempat turunnya mereka mengatakan misalnya “surah ini diturunkan setelah surah itu.” Dan lebih cermat lagi sehingga mereka membedakan antara yang diturunkan dimalam hari dengan yang di turunkan di siang hari, antara yang diturunkan di musim panas dengan diturunkan di musim dingin dan antara yang diturunkan waktu sedang berada dirumah dengan yang diturunkan saat bepergian.

Beberapa contoh:
            Bebrapa ulama berpendapat bahwa yang paling mendekati kebenaran tentang bilangan surah- surah Makki dan Madani ialah bahwa yang termasuk surah madaniah ada 20 surah :
1.      Al- baqarah
2.      Ali Imran
3.      An-Nisa
4.      Al- Ma’idah
5.      Al- Anfal
6.      At- Taubah
7.      An- Nur
8.      Al- Ahzab
9.      Muhammad
10.  Al- Fath
11.  Al- Hujarat
12.  Al- Hadid
13.  Al- mujadalah
14.  Al- Hasyr
15.  Al- Mumtahanah
16.  Al- Jumu’ah
17.  Al- Munafikun
18.  At- Talak
19.  At- Tahrim
20.  An- Nasr.
Sedang yang di perselisihkan ada 12 surah:
1.      Al- Fatihah
2.      Ar- Rad
3.      Ar- Rahman
4.      As- saff
5.      At-Tagabun
6.      At-Tatfif
7.      Al-Qadar
8.      Al-bayyinah
9.      Az-Zalzalah
10.  Al-Ikhlas
11.  Al-Falaq
12.  An-Nas
Selain yang disebutkan diatas adalah makki yaitu 82 surah, maka jumlah Al-Qur’an itu semuanya 114 surah.



B. Perbedaan Makki dan Madani
            Untuk membedakan Makki dengan madani, Para ulama mempunyai tiga macam pandangan yang masing-masing mempunyai dasarnya sendiri.
            Pertama: Dari segi waktu turunnya. Makki adalah surah atau ayat yang diturunkan sebelum hijrah meskipun bukan di makah sedangkan madani adalah yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun bukan di madinah, yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun di mekkah atau arafah adalah madani seperti yang diturunkan pada tahun penaklukan kota makkah misalnya:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا﴿4:58 
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(an- Nisa [4]:58)

Ayat ini diturunkan di makkah dalam ka’bah, pada tahun penaklukan mekkah.
Atau yang diturunkan pada Haji wada.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا              

Hari ini telah aku sempurnakan untukmu agamamu telah aku cukupkan kepadamu nikmatku dan telah ku-ridhai Islam menjadi agama bagimu (Al- Maidah [3]: )
            Kedua: Dari segi tempat turunnya. Makki ialah yang turun di mekah dan sekitarnya, seperti di Mina, Arafah dan hudaibiyah. Dan Madani yang turun di Madinah dan sekitarnya, seperti Uhud, Quba dan sil. Pendapat ini mengakibatkan tidak adanya pembagian secara konkrit yang mendua sebab yang turun dalam perjalanan di tabuk dan di baitul Makdis tidak termasuk kedalam salah satu bagiannya sehingga ia tidak dinamakan Makki dan tidak juga Madani. Juga mengakibatkan bahwa yang diturunkan di mekkah sesudah hijrah di sebut Makki.
            Ketiga: Dari segi sasarannya. Makki adalah yang seruannya di tunjukan kepada penduduk mekah dan madani adalah yang seruannya di tunjukan kepada penduduk madina. Berdasarkan pendapat ini para pendukungnya mengatakan bahwa Ayat al-qur;an yang mengandung seruan (nida) “ya ayyuhan nas” (wahai manusia) adalah makki. Sedangkan ayat yang mengandung seruan (nida) “ya ayyuhal lazina amanu” (wahai orang-orang yang beriman) adalah madani.
            Namun melalui pengamatan yang cermat bahwa kebanyakan surah Al-Qur’an tidak selalu dibuka dengan selalu satu seruan itu dan ketentuan demikian pun masih belum konsisten.

Ciri-ciri Makki dan Madani.

            Para ulama telah meneliti surah – surah makki dan madani dan menyimpulkan beberapa ketentuan analogis bagi keduanya yang menerangkan ciri-ciri khas gaya bahasa dan persoalan – persoalan yang dibicarakannya. Disitu mereka dapat menghasilkan kaidah – kaidah dengan ciri tersebut.

a). Ketentuan maki dan ciri khas Temanya:
1.      Setiap surah yang didalamnya mengandung “sajdah” maka surah itu Makki.
إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ(الحج: 18) 
2.      Setiap surah yang mengandung lafal “kalla”, berarti Makki.
                                                 كَلاَّ إِنَّها كَلِمَةٌ هُوَ قائِلُها (المؤمنون:100)
3.      Setiap surah yang mengandung kalimat “nida” (panggilan) ya ayyuhan nas  ياايهاالناس   berarti Makki.
4.      Setiap surah yang mengandung kisah para nabi dan umat terdahulu adalah Makki, kecuali surah Al- baqarah.
5.      Setiap surah yang mengandung kisah Nabi Adam dan Iblis adalah Makki, kecuali surah Al-baqarah.
6.      Setiap surah yang dibuka dengan huruf – huruf singkatan, seperti Alif Lam Mim, Alif Lam Ra, Ha Mim dan lainnya, adalah Makki. Kecuali surah Al- Baqarahh, Ali Imran. Sedangkan surah Ar- Rad masih di perselisihkan.


Ini adalah dari segi ketentuan sedangkan dari segi ciri tema dan gaya bahasa bapat
diringkas sebagai berikut:
1.      Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan dari hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksaannya, surga dan nikmatnya, argumentasi dengan orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti yang rasional dan ayat-ayat kauniah.
2.      Peletakan dasar-dasar umum bagi perundang- undangan dan akhlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu Masyarakat; dan penyingkapan dosa orang misyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara dzalim, penguburan hidup- hidup bayi perempuan dan tradisi buruk lainnya.
3.      Menyebutkan kisah- kisah para nabi dan umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka sehingga mengetahui nasib orang yang mendustakan sebelum mereka; dan sebagai hiburan buat Rosulallah sehingga ia tabah dalam menghadapi gangguan mereka dan yakin akan menang.
4.      Suku katanya pendek- pendek disertai kata- kata yang mengesankan sekali, pernyataannya singkat, ditelinga terasa menembus dan terdengar sangat keras, menggetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan dengan diperkuat lafal- lafal dumpah; seperti surah- surah yang pendek- pendek. Dan perkecualiannya hanya sedikit.
b). Ketetntuan Madani dan ciri khas Temanya:
1.      Setiap surah yang berisi kewajiban atau had (sanksi) adalah Madani.
2.      Setiap surah yang didalamnya disebutkan orang-orang munafik adalah madani, kecuali surah al-‘Ankabut adalah Makki.
3.      Setiap surah yang didalamnya terdapat dialog dengan ahli kitab adalah madani.
Ini dari segi ketentuan, sedangkan dari segi ciri khas tema dan gaya bahasa dapa diringkas sebagai berikut:
1.      Menjelaskan ibadah, muamalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan sosial, hubungan internasional, baik di waktu damai atau perang, kaidah hukum dan masalah perundang- undangan.
2.      Seruan terhadap Ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, dan ajakan kepada mereka terhadap kitab- kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada mereka karena rasa dengki diantara sesama mereka.
3.      Menyinkap perilaku orang munafik, menganalisis kejiwaannya, membuka kedoknya dan menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama.
4.      Suku kata dan ayatnya panjang- panjang dan dengan gaya bahasayang memantapkan syariat serta menjelaskan tujuan dan saran- sarannya.







C. Faedah Mengetahui Makki dan Madani.
Pengetahuan tentang maki dan madani banyak faedahnya, diantaranya yaitu:
a)      Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Qur’an, sebab pengetahuan mengenai tempat turunnya ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkannya dengan tafsiran yang benar, sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian ilmu lafadz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir dapat membedakan antara ayat yang nasikh dengan yang masukh bila diantara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Yang datang kemudian tentu merupakan nasikh atas yang terdahulu.
b)      Meresapi gaya bahasa Al- Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah, sebab setiap situasi mempunyai bahasa tersendiri. Memperhatikan apa yang dikehendaki oleh situasi, merupakan arti paling khusus dalam ilmu retorika. Karakteristik gaya bahasa Makki dan Madani dalam Qur’an pu memberikan kepada orang yang mempelajarinya sebuah metode dalam penyampaian dakwah ke jalan Allah yang sesuai dengan kejiwaan lawan berbicara dan menguasai pikiran dan perasaannya serta menguasai pikiran dan perasaannya serta mengatasi apa yang ada dalam dirinya dengan penuhkebijaksanaan. Setiap tahapan dakwah mempunyai topik dan pola penyampaian tersendiri. Pola penyampaian itu berbeda- beda, sesuai dengan perbedaan tata cara, keyakinan dan kondisi lingkungan. Hal yang demikian nampak jelas dalam berbagai cara Qur’an menyeru berbagai golongan: Orang yang Beriman, yang Musyrik, yang munafik, dan Ahli kitab.
c)      Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat- ayat Qur’an, sebab turunnya Wahyu kepada Rosulallah sejalan dengan sejarah dakwah  dengan segala peristiwa, baik pada periode Mekah maupun periode Medinah, sejak permulaan turun wahyu hingga ayat terakhir diturunkan. Qur’an adalah sumber pokok bagi peri hidup Rasulallah. Peri hidup beliau yang diriwayatkan ahli sejarah harus sesuai dengan Qur’an; Qur’an pun memberikan kata putus terhadap perbedaan riwayat yang mereka riwayatkan.





















DAFTAR PUSTAKA

Ulumul qur’an.Manna Kalil Al-Qattan. Diterjemah kan oleh Drs. Mudzakir As.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar